APRESIASI SENI – Sajian Live Gamelan dan Tari Gaya Mangkunegaran oleh PAKARTI Mangkunegaran

Pada hari Minggu tanggal 27 Februari 2022 jam 19.00 WIB di Surakartea menyajikan pertunjukan tari dan gendhing karawitan gaya Mangkunegaran. Tercatat ada tujuh sajian diantaranya tiga sajian gendhing karawitan gaya Mangkunegaran dan empat sajian tari gaya Mangkunegaran. Tujuan pementasan ini adalah untuk merayakan ulang tahun Paguyuban Karawitan dan Tari (PAKARTI) Mangkunegaran. 

Diawal sajian kita disuguhkan dengan Ladrang Slamet Slendro Manyura yang kemudian dilanjutkan oleh sajian Tari Bandabaya yang ditarikan oleh empat penari pria. Tarian ini diciptakan oleh KGPAA Mangkunegoro IV yang menceritakan empat prajurit sedang belajar berperang menggunakan tameng dan alat floret (pedang yang runcing seprti lidi). Kemudian sajian dilanjutkan dengan Ladrang Mugirahayu Slendro Manyura dan dilanjutkan oleh sajian Tari Mandra Asmara yang ditarikan oleh dua penari putri dan dua penari putra yang mana masing masing penari menggambarkan tokoh yang berbeda – beda dan keempat penari tersebut menembang secara bergantian. Selanjutnya penonton disuguhkan dengan Tari Gambyong Langenkusumo yang ditarikan oleh lima orang gadis dan selama menari salah satu gadis menembang dari awal sampai akhir tarian. Sajian berikutnya adalah Tari Asmarasih yang ditarikan oleh sepasang pria dan wanita yang mana tarian ini masuk dalam kategori tari pasihan atau percintaan. Di akhir sajian kita di pertontonkan gendhing Lancaran Udan Mas Pelog Nem kemudian dilanjut dengan sesi dokumentasi oleh para pengisi acara. 

“Pagelaran Gamelan dan Tari yang dibawakan oleh PAKARTI sudah sangat menarik. Pagelaran diawali dengan sajian manguyu-uyu Ladrang Slamet, kemudian ada juga beberapa tarian yang memang berasal dari Mangkunegaran. Sebagai cirikhasnya tarian Mangkunegaran selalu diikuti oleh kenthongan yang menggambarkan detak/denyut nadi. Yang menarik lagi penari juga sekaligus ikut olah vocal sehingga menghidupkan suasana tarian yang dibawakan. Untuk segi RNB penari sangat klasik dan indah, akan tetapi pengrawit tidak seragam pakaiannya sehingga terlihat kurang berkesan.” (Yanuar Yoga Saputra)

“Kalau dari lakon saya kurang paham, penokohan ya mungkin itu sudah bagus, sudah sesuai karena saya juga kurang paham dengan tari, Untuk RnB juga sudah sesuai dengan nama tariannya, lighting bagus, dekorasi bagus namun ada kekurangan sedikit pengrawit tidak bisa di tonton karena terhalang oleh tembok, kalau lain lain mungkin saya agak paham di tembang, kemarin ada penari nembang tapi kurang pas dengan nada.” (Adhwa Vierga Satyva) 

“Untuk jalan sajian cukup bagus, sayangnya untuk suara dari sindhen (non penari) dan wiraswara kurang terdengar karena tidak diberi microphone. Tari yang ditampilkan juga menggunakan Gagrak Mangkunegaran yang bagi saya sendiri kurang familiar untuk beberapa jenis ragam gerak tarinya walaupun sekaran kendhang yang dibunyikan sama. Dari segi lighting juga cukup sederhana karena hanya menggunakan lampu yang tersedia di ruangan tersebut. Untuk dekorasi juga cukup bagus karena terbantu oleh tata dekorasi dari “Surakartea” yang sederhana namun tetap berkesan mewah dengan ciri khas dekorasi jaman dulu.” (Bayu Prasetyo Adi) 

“Jujurly, karena semalem gak terlalu jelas liatnya karena ya ketutupan sana dan sini, overall sajiannya bagus (yo iyolahh) tapi mungkin bisa lebih didukung dengan lighting atau tata punggung yg lebih lagi, karena kemarin kan setting nya cuma satu tempat, dan lighting nya yaudah cuma lighting utama aja, susah buat ngeliat center nya yg mana, karena walaupun kelompok pasti ttp ada yg jadi satu center kan, nah itu akan lebih baik kalo didukung pake lighting yg lebih proper. Tapi sebenere overall udh bagus kok pementasannya, semangat bidang 1 dalam merekap jawaban apresiasi!.” (Cahya Sabilla Virgananda)

“Menurut saya sudah bagus. Dari segi kostum juga sudah bagus. Ada yang simpel tapi menarik dan ada juga yang sesuai dengan pakemnya. Untuk dekorasi mungkin hanya bagian tempat yang kurang memuaskan karena bangunan yang bentuknya seperti rumah dan lumayan tertutup jadi tidak bisa ditonton keseluruhan.” (Nova Dwi Lestari)

Dapat disimpulkan dari beberapa pertanyaan diatas bahwa dalam pertunjukan Live Gamelan dan Tari Gaya Mangukenagaran oleh PAKARTI Mangkunegaran sudah baik. Dari segi penyajian para penari sudah sangat baik dalam membawakan tarinya dan tokoh yang diperankan di dalamnya akan tetapi beberapa penari yang nembang nadanya kurang pas dan para pengrawit juga menbawakan sebuah gendhing – gendhing yang ditampilkan baik untuk mengiringi tari maupun sajiannya sendiri sudah baik karena bisa menyatu dan setiap tabuhannya sangat indah dan lembut. Dari segi kostum para penari sangat khas dengan gaya Mangkunegarannya, akan tetapi ada beberapa atribut kecil seperti perhiasan yang dikenakan para penari berbeda – beda meskipun sekilas tidak terlihat terlalu jelas dan pakaiam yang dikenakan para pengrawit sudah satu tema yaitu batik meskipun batik yang dikenakan berbeda – beda. Dari segi pencahayaan dan dekorasi di panggung sudah sangat baik akan tetapi panggung terhalang oleh tembok sehingga penyaji tidak terlihat dengan jelas meskipun tempatnya sudah sangat estetik. Sangat disayangkan dari penyajian kemarin tidak ada MC sehingga dalam setiap pergantian sajian tidak disebutkan gendhing atau tari apa yang akan ditampilkan sehingga beberapa penonton tidak mengetahui sajian apa yang sedang disuguhkan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *