PRESS RELEASE | APRESIASI SENI – SENDRATARI RAMAYANA “ANOMAN OBONG”

SENDRATARI RAMAYANA

“ANOMAN OBONG”

Jum’at, 17 Juli 2020 | Taman Balekambang

Sendratari Ramayana merupakan salah satu pagelaran yang disajikan setiap bulan di Taman Balekambang Solo. Pagelaran kali ini kembali digelar pada Jum’at, 17 Juli 2020 pukul 18.00 WIB setelah 4 bulan mengalami vakum karena adanya wabah virus Corona. Pagelaran ini menjadi pagelaran seni pertama yang dipertontonkan secara langsung kepada masyarakat setelah adanya pandemi virus Corona. Penonton dalam pagelaran ini dibatasi sebanyak maksimal 500 penonton, lebih sedikit daripada biasanya. Mereka difasilitasi e-voucher yang digunakan sebagai tiket. Saat akan melihat pertunjukan, penonton diwajibkan untuk menunjukkan e-voucher di Pintu Masuk Timur Taman Balekambang Solo. Walaupun dilaksanakan secara langsung, pelaksanaan pagelaran ini tetap mematuhi protokol kesehatan dengan mewajibkan penonton untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memasuki area pagelaran. Selain itu, tempat duduk untuk penonton juga diberi jarak, mereka hanya diperbolehkan duduk di tempat yang sudah diberi tanda berupa silang.

Sendratari Ramayana kali ini membawakan lakon “Anoman Obong” yang ditampilkan oleh Sanggar Tari Solah Gatra dari Surakarta. Menceritakan misi agung Anoman untuk menjemput Dewi Shinta yang disandera oleh Prabu Dasamuka atau biasa kita sebut dengan Rahwana. Adegan pertama dibuka dengan semua penari masuk dan menyanyikan lagu opening. Kemudian masuklah Rama Wijaya, Lesmana dan Dewi Shinta. Diceritakan saat mereka sedang bersama, datanglah Rahwana dan Patih Prahastha yang sedang mengawasi Dewi Shinta. Rahwana menaruh hati pada Dewi Shinta dan ingin memilikinya. Saat Rama Wijaya dan Lesmana sedang berburu, Rahwana berusaha menculik Dewi Shinta namun gagal. Hal itu dikarenakan Dewi Shinta dilindungi oleh Rama Wijaya lewat lingkaran yang dibuatnya di sekeliling Dewi Shinta. Rahwana tidak kehabisan akal, dia menyamar menjadi lelaki tua. Dewi Shinta merasa kasihan melihat lelaki tua itu, dia menghampirinya. Tiba-tiba lelaki tua itu berubah menjadi Rahwana dan menculik Dewi Shinta dan dibawa ke kerajaannya.

Saat kembali dari berburu, Rama Wijaya dan Lesmana menyadari bahwa Dewi Shinta diculik oleh Rahwana, mereka berusaha mencarinya namun tidak ketemu. Akhirnya Rama Wijaya mengutus Anoman untuk mencari Dewi Shinta ke Alengka. Saat Anoman hendak pergi, datanglah Anggada dan pasukannya. Anggada merupakan putra Subali dan Dewi Tara. Anggada meminta kepada Rama Wijaya untuk membatalkan niatnya mengutus Anoman mencari Dewi Shinta. Kemudian Anoman dan Anggada berkelahi untuk memperebutkan tugas mencari Dewi Shinta ke Alengka. Perkelahian dimenangkan oleh Anoman. Rama Wijaya memberikan cincin kepada Anoman untuk diberikan kepada Dewi Shinta, Anggada ikut bersamanya.

Di Keputren Taman Asoka, Dewi Shinta ditemani oleh Dewi Trijatha, anak dari Wibisana yang merupakan adik dari Rahwana. Walaupun berbentuk raksasa, Trijatha memiliki hati yang baik, dia selalu menemani dan menghibur Dewi Shinta. Kemudian datanglah Prabu Dasamuka berusaha untuk membawa Dewi Shinta ke dalam istananya. Dia memaksa Dewi Shinta untuk mau melayaninya dan menjadi istrinya, namun Dewi Shinta terus menolak. Rahwana menjadi marah dan berusaha membunuh Dewi Shinta, namun digagalkan oleh Trijatha, setelah itu Rahwana pergi. Kemudian datanglah Anoman menemui keduanya. Dewi Shinta dan Dewi Trijatha merasa terkejut. Anoman menjelaskan bahwa dia diutus oleh Rama Wijaya untuk membawa Dewi Shinta pulang. Namun Dewi Shinta menolak ajakan Anoman, dia menginginkan Rama Wijaya sendiri yang datang ke Alengka untuk membawanya pulang. Anoman memberikan cincin pemberian Rama Wijaya kepada Dewi Shinta. Dewi Shinta menitipkan sisir kepada Anoman untuk diberikan kepada Rama Wijaya.

Tiba-tiba datanglah Indrajid, dan pasukan raksasa lainnya. Mereka berusaha mengepung dan menangkap Anoman. Anoman berhasil ditangkap dan dibawa ke dalam istana, dihadapkan kepada Rahwana. Rahwana marah besar dan mengutus Indrajid untuk membakar Anoman hidup-hidup. Anoman dibawa ke luar istana, tangannya diikat. Dia dibakar oleh pasukan raksasa. Karena kesaktiannya, Anoman tidak bisa tewas oleh api. Setelah ikatannya lepas, dia melompat ke segala penjuru kerajaan dan membakarnya. Anoman kembali ke Pancawati dan menceritakan semua kejadian yang dialami kepada Rama Wijaya. Tak lama kemudian, Rama Wijaya, Lesmana, Anoman,  Anggada dan pasukannya datang ke Alengka untuk membawa Dewi Shinta kembali.

Dari pagelaran tersebut, kita bisa mengambil sisi menarik. Yaitu kita tetap bisa berkesenian dan melestarikan budaya walaupun sedang berada di masa sulit seperti pandemi sekarang ini. Dalam pagelaran tersebut juga ditemukan beberapa keunikan dalam hal musiknya, seperti beberapa kali ditemukan adanya peralihan musik dari Laras Slendro ke Laras Pelog sehingga menimbulkan kesan yang tidak membosankan. Kemudian ada beberapa musik yang digabung seperti vokalnya menggunakan Laras Pelog tapi gamelannya menggunakan Laras Slendro. Ada juga perpaduan antara alat musik tradisional berupa gamelan dengan alat musik modern seperti drum, terompet dan jimbe sehingga terdengar lebih indah, asik dan ramai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *