PRESS RELEASE | APRESIASI SENI – SAJIAN TARI “DADI SINGA” KARYA PRIYO NUGROHO (MAGELANG) DALAM ACARA TIDAK SEKEDAR TARI #64

Apresiasi Seni – UKM BKKT UNS

Priyo Nugroho (Magelang) saat menyajikan karyanya “Dadi Singa”

Rabu, 12 Februari 2020 | Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah

Acara “Tidak Sekedar Tari” adalah sebuah event studio eksperimental  tari bagi para koreografer yang mempunyai karya tari original untuk ditampilkan dan dipresentasikan serta didiskusikan. Acara ini merupakan salah satu kegiatan di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta yang idenya muncul dari para seniman berbagai daerah yang semuanya bersifat eksperimentalyang dilakukan melaui bentuk-bentuk tari yang baru yang basic tariannya bisa tradisi, klasik, maupun modern.

“Tidak Sekedar Tari” kali ini merupakan pertunjukkan ke-64 yang diadakan di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Jalan Ir. Sutami no. 57 Surakarta, tepatnya pada hari Rabu, 12 Februari 2020 pukul 19.30 WIB. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Taman Budaya Jawa Tengah, Komunitas Wisma Seni, Studio Taksu, dan Yayasan Ekos Dance. Karya yang ditampilkan yakni :

  1. “Dadi Singa” karya Priyo Nugroho (Magelang),
  2. “Citra Pata Putri” karya Unit Seni dan Film (USF) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),
  3. “Reflek” karya Widi Pramono dan Bima Arya Putra (Jogjakarta),
  4. “Ins Spesial” karya Dwi Mahendra ‘Palu’ (Kelompok SLB A Kota Surakarta), dan
  5. “Molah” karya Subekti Wiharto (Jogjakarta).

Salah satu karya yang ditampilkan yaitu “Dadi Singa” karya dari Priyo Nugroho asal Magelang.Menurut Priyo, tarian ini berkonsep tentang kerinduannya tentang Damalung atau dengan sebutan lain yaitu Merbabu. Dadi Singa disini bukanlah semata-mata menjadi “singa” yang dipikirkan, namun berdasarkan penuturan Priyo yang berbunyi “Dadi singa a kowe, kowe bakal tetep dadi bocah Merbabu” yang berarti “Daripada menyekolahkan anak di luar sana, lebih baik hidup tenteram disini (Kawasan Merbabu)”. Dengan berbusana Kejawen bergaya Adat Ngayogjan, diawal penampilan penempatan keris bukan seperti biasanya, yaitu dibalik posisi atas menjadi dibawah atau Netep. Melambangkan bahwa sang koreografer masih belum menemukan budaya adat Jawa yang kental seperti yang ada di Masyarakat Komunitas Merbabu (prihatin), seperti adanya puji-pujian sebelum shalat, unggah-ungguh, dsb.

Kemudian, disusul dengan adegan ngelinting atau melinting rokok tembakau. Adegan ini juga merupakan perlambang adat-istiadat masyarakat Komunitas Merbabu yang sudah dilakukan semasa muda. Lalu, pada adegan berikutnya sang penari membalik posisi keris menjadi posisi normal pemakaian keris dan juga melakukan gerakan yang semangat melambangkan bahwa ia telah “kembali” kepada suasana Masyarakat Komunitas Merbabu yang semestinya. Ditandai dengan adanya iringan musik yang disisipi puji-pujian sebelum shalat. Secara keseluruhan iringan, suasana yang dibawakan adalah serius dengan tempo yang rancak (bkkt20).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *