You are currently viewing Apresiasi Seni World Dance Day 24 Jam Menari ISI SURAKARTA

Apresiasi Seni World Dance Day 24 Jam Menari ISI SURAKARTA

Tanggal 29 April 2026, Bidang 1 telah melaksanakan apresiasi seni di Pendhapa GPH Djojokusumo, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pada tanggal tersebut juga diperingati Hari Tari Dunia (HTD) yang ke-20. Hari Tari Dunia atau sering disingkat HTD biasanya dirayakan dalam event “24 Jam Menari”, yang setiap tahunnya menampilkan penari yang menari selama 24 jam penuh tanpa henti. Selain itu, kegiatan 24 Jam Menari juga diselenggarakan di berbagai ruang pertunjukan seperti Pendhapa, Teater Besar, Teater Kecil, dan Teater Kapal.

Bidang 1 berkesempatan mengapresiasi seni di Pendhapa GPH Djojokusumo. Sajian pertama ditampilkan oleh Kemricing Arts dari Kota Ambarawa, dengan membawakan Tari Serabi Ngampin. Tarian ini memiliki filosofi rasa autentik dari kuliner khas Ambarawa, yaitu serabi Ngampin, yang menggambarkan rasa manis, gurih, dan legit. Sajian ini dikemas dalam bentuk gerak tari yang menggambarkan proses menjajakan jajanan tersebut.

Tari ini disajikan dengan nuansa kegembiraan, kesenangan, dan semangat gotong royong, serta menggambarkan suasana pedesaan yang damai, asri, dan penuh suka cita. Iringan dan gerak tari tampil dengan kombinasi yang elegan, dibawakan oleh tiga penari putri dan tiga penari putra. Gerakan tari secara langsung menggambarkan aktivitas masyarakat Ambarawa dalam membuat dan menjajakan serabi Ngampin.

Sajian tari kedua masih dibawakan oleh Kemricing Arts, yaitu Tari Baru Klinting. Tarian ini diangkat dari cerita rakyat khas Ambarawa mengenai tokoh Baru Klinting, seorang anak berwujud naga yang melakukan sayembara mencabut lidi hingga akhirnya terbentuk Rawa Pening, yang kisahnya masih dikenal hingga saat ini.

Tarian ini dibawakan oleh empat penari putra dan empat penari putri. Gerakannya terkesan gagah, lugas, berwibawa, dan memiliki nuansa sejarah yang kuat. Penari menampilkan ekspresi dan power yang kuat untuk menggambarkan alur cerita. Properti yang digunakan juga mendukung, salah satunya properti naga, serta rias yang menampilkan unsur karakter naga sebagai penguat visual pertunjukan.

Selanjutnya, terdapat sajian dari Sanggar Pelangi Ngesti Budaya Karanganyar yang menampilkan tiga tarian sekaligus. Tarian pertama adalah Tari Pang-Pung, yaitu tari yang energik dan penuh keceriaan. Tarian ini menggambarkan suasana permainan, kebersamaan, dan kehidupan sosial masyarakat dengan gerakan dinamis serta iringan gendhing Pang-Pung yang ritmis. Tarian ini dibawakan oleh kurang lebih 30 anak-anak dengan suasana yang ceria dan penuh semangat.

Tarian kedua adalah Tari Kupu Kuwi, yang terinspirasi dari keindahan kupu-kupu yang terbang bebas di alam. Gerakannya lembut dan gemulai, mencerminkan keanggunan, proses metamorfosis, serta simbol perubahan, pertumbuhan diri, dan kedewasaan. Tarian ini juga dibawakan secara berkelompok oleh sekitar 30 anak-anak dengan kostum menyerupai kupu-kupu, diiringi tembang dolanan “Kupu Kuwi” yang penuh kegembiraan.

Tarian ketiga adalah Tari Semut, yang menggambarkan kehidupan koloni semut yang penuh kerja sama, disiplin, dan semangat gotong royong. Gerakannya mencerminkan aktivitas semut dalam mencari makan, saling membantu, serta membangun sarang. Tarian ini dibawakan oleh lebih dari 30 anak-anak dengan kostum menyerupai semut, dan disajikan dengan gerakan yang menghibur serta terkesan lucu.