PRESS RELEASE | APRESIASI SENI – PAGELARAN KETHOPRAK “GAGAK SALA”

Apresiasi Seni – UKM BKKT UNS

Jum’at, 21 Februari 2020 | Taman Balekambang

Setiap satu bulan atau dua bulan sekali, di Taman Balekambang Surakarta selalu diadakan berbagai macam pertunjukan. Diantaranya sendratari, kethoprak, konser karawitan dan sebagainya. Pada hari Jumat, 21 Februari 2020 digelar pertunjukan kethoprak di Taman Balekambang dengan lakon “Gagak Sala” yang dibintangi oleh seniman asal Yogyakarta yaitu Mbah Marwoto Kawer. Selain itu ada juga penampilan dari dua pelawak terkenal yaitu Eko Gudel dan Mas Mbolo. Pagelaran kethoprak ini diadakan dalam rangka menyambut hari jadi Kota Sala yang ke 275 tahun. Oleh karena itu kethoprak mengangkat tema tentang kota Solo.

Lakon “Gagak Sala” menceritakan sekumpulan prajurit desa yang bukan merupakan prajurit keraton,namun mempunyai ambisi yang sangat besar untuk menumpas kejahatan di Kota Solo. Gagak sala ingin menjaga keamanan dan ketertiban Kota Solo. Gagak Sala diperankan oleh 7 orang prajurit dan 1 orang pemimpin. Para prajurit Gagak Sala sangat tangguh dan pemberani dalam menumpas kejahatan. Digambarkan dengan gerakan-gerakan perang yang gagah dan dialog-dialog yang semakin mnnambah kesan pemberani seorang prajurit. Pengenalan para tokoh Gagak Sala ini terjadi pada babak awal pagelaran kethoprak ini.

Pada babak kedua, berlatar tempat di Desa Jatisari. Disana terdapat gadis yang cantik jelita bernama Sulastri. Selain cantik Sulastri juga pandai menari. Pada awal babak kedua ini, digambarkan Sulastri yang centil tetapi agak jual mahal. Karena pada adegan ini terdapat percakapan antara Sulastri dengan teman semasa kecilnya yang bernama Sudra. Sudra mengaku mencintai Sulastri, akan tetapi Sulastri menolak cinta Sudra. Sulastri hanya menganggap Sudra sebagai seorang teman, tidak lebih dari itu. Pada babak ini sangat menarik, karena banyak sekali banyolan lawakan dari pemain. Dialognyapun ringan, sesuai dengan keadaan saat ini sehingga dapat diterima masyarakat bahkan anak muda sekalipun. Apalagi diselingi dengan lagu-lagu seperti Gedhe Rasa yang dipopulerkan oleh Abah Lala. Pada saat lagu itu dinyanyikan oleh Sudra, terdapat adegan rayuan dari Sudra kepada Sulastri. Tentunya hal ini sangat menarik perhatian penonton. Adegan mesra tersebut berhasil dimainkan ditandai dengan sorak sorai dari penonton. Selain adegan mesra dari Sudra dan Sulastri, diceritakan juga terdapat sekumpulan gadis yang mengajak Sulastri untuk belajar nari ledhek. Tari ledhek juga disebut tai tayub di daerah tertentu. Pada adegan ini  digambarkan sulastri dan teman-temannya selalu belajar tari ledhek di sanggar milik orang tua Sulastri.  Ketika Sulastri dan teman-temannya belajar nari, datanglah ibu Sulastri yang memuji penampilan Sulastri dan teman-temnnya. Bapak Sulastri pun datang dan membicarakan jika akan mencarikan job narib untuk Sulastri dan teman-temannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Datanglah utusan dari keraton yaitu Tumenggung Wirasentro dan Tumenggung Wiramantri untuk mengundang Sulastri dan teman-temanya menari di Keraton guna menyambut kedatangan Raden Yuwana yang akan datang dari Belanda. Diceritakan Raden Yuwana belajar di Belanda dan hendak pulang ke Kota Solo.

Pada babak selanjutnya, di keraton terdapat patih bernama Patih Pringgalaya. Patih Pringgalaya diperankan oleh Marwoto. Digambarkan Patih Pringgalayamemiliki watak licik, yaitu ingin membuat kerusuhan di Solo dan ingin menguasai Solo. Selain itu perwatakan Patih Pringgalayasemakin jelas dengan adegannya bersama istri-istrinya. Patih Pringgalaya memiliki istri berjumlah 8 yang masing-masibg mempunyai watak sendiri-sendiri. Kedelapan istrinya tidak setuju jika Patih Pringgalaya menikah lagi. Mereka merengek minta cerai dan warisan.  Patih Pringgalaya tetap kukuh hendak menikahi Sulastri. Dia menyuruh prajuritnya untuk menculik sulastri. Sulastri akhirnya dibawa ke Kepatihan. Sulastri dipaksa untuk.menikah dengan Patih Prigaloyo. Sulastri tidak mau menikah dengan Patih Pringgalaya. Akhirnya Sulastri diselamatkan oleh Gagak Sala.

Pada segmen dagelan dimainkan oleh 3 orang pemain, yang memparodikan wayang. Satu orang menjadi dhalang dan 2 orang lainnya memperagakan tokoh wayang Buta Cakil dan Janaka. Denga kostum yang aneh dan lucu mereka memperagakan tokoh wayang tersebut, mulai dari tarian, gaya bicara, dan lain-lain. Adegan ini membuat penonton terpingkal-pingkal karena lucu. Kemudian gagak sala menitipkan Sulastri pada 3 orang tersebut.

Patih Pringgalaya murka dan menyuruh prajuritnya untuk mencari Sulastri. Prajurit keraton bertemu dengan sekumpulan gagak sala. Kemudian mereka adu kekuatan. Namun semakin lama mereka malah battle dance untuk mengatasi kejenuhan penonton. Yang menarik adalah pemain prajuritnya masih muda dan pandai menari modern. Kethoprak ini dikemas dengan apik oleh sutradara, dengan dipadupadan musik musik modern dan garapan gamelan yang unik.

Pada babak selanjutnya Raden Yuwana pulang ke Solo. Bertemu dengan pemimpin gagak sala yang masih keturunan keraton. Raden Yuwana sebenarnya tau jika di Solo terdapat kerusuhan. Ia menemui ayahnya yang merupakan Raja Solo. Kemudian Raden Yuwana diberi pusaka oleh ayahnya, pusaka tersebut berupa plastik kresek dan sandal jepit yang digambarkan dengan makna seorang pemimpin harus dapat mengayomi masyarakat dengan berbagai kalangan. Tiba saatnya Lastri dan teman-temannya menari. Ketika menari, Selendang Sulastri digunakan untuk menumpahkan minuman Raden Yuwana. Sontak sulastri ditegur pihak keraton karena dinilai tidak mempunyai tata krama karena dengan sengaja menumpahkan minuman Raden Yuwana. Ternyata Sulastri memiliki alasan yaitu Sulastri tau jika di minuman itu terdapat racun. Sulastri mempunyai bukti yaitu juru masak. Akhirnya juru masak dipanggil untuk menghadap. Juru masak mengaku jika dirinya hanya disuruh Parih Pringgalaya untuk menuangkan racun di minuman Raden Yuwana. Akhirnya Patih Pringgalaya diminta menghadap. Alasan parih Pringgalaya melakukan itu adalah Ia ingin menjadi penguasa Solo dan menyingkirkan Raden Yuwana. Amanat yang dapat dipetik dari pagelaran kethoprak ini adalah siapa yang berbuat kejahatan akan terungkap. Dalam istilah Jawa disebut sapa salah bakal seleh.

Kostum dan tata rias  digunakan para pemain yaitu campuran antara gaya jogja dan gaya surakarta. Para pemain laki-laki ada yabg memakai blagkon jogja dan surjan jogja. Namun ada juga yang memakai blangkon Solo. Gaya wingkisan jarik atau lipatan jarik yang digunakan yaitu gagrag Solo atau gaya jarik Solo yang kain serednya dilipat kedalam. Jika wingkisan jarik Jogja memperlihatkan sered atau kain sisa yang tidak ada motifnya, bisasanya di ujung kain. Kostum penari ledhek sulastri dan kawan-kawan menggunakan kain dodot merah dan kebaya merah yang sangat cantik digunakan.

Tarian ledhek yang ditampilkan diiringi dengan lagu kijing miring yang dibuat kreatif dengan tabuhan gamelan sehingga enak didengarkan. Selain itu iringan yang digunakan tidak hanya gamelan akan tetapi menggunakan keyboard, bass dan lain lain. Lagu yang digunakan pun beragam, untuk digunakan sebagai selingan. Misal lagu Gedhe Rasa, Bojo Loro, dan lagu dari Koes Plus. Lagu-lagu tersebut menampah ketertarikan penonton sehingga penonton tidak merasa jenuh.

Pagelaran kethoprak tersebut digelar di open stage Taman Balekambang dengan pencahayaan yang bagus. Akan tetapi dikarenakan hujan, arena panggung menjadi basah dan licin sehingga membuat pemain kesulitan dalam melakukan gerakan baik tari maupun adegan peran. Ada beberapa pemain yang terpeleset karena licin. Kondisi seperti ini memang tidak bisa diprediksi. Untuk pengeras suaranya agak buruk. Clip on yang digunakan sering mati, itu menyebabkan dialog dari pemain tidak terdengar menyeluruh.

Namun terlepas dari itu semua, antusiasme masyarakat akan kesenian kethoprak sangatlah tinggi. Penonton penuh dan ramai. Penonton yang datang dari berbagai kalangan dan berbagai usia. Anak muda hingga orang tua semua menonton. Hal seperti ini patut dipertahankan. Kethoprak harus dikemas mengikuti perkembangan jaman, dengan tidak melupakan pakemnya. Agar masyarakat modern tetap bisa menerima dan menikmati pertunjukan kethoprak sebagai kesenian rakyat (bkkt20).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *