PRESS RELEASE | Apresiasi Seni – Pagelaran Kethoprak “Sang Adhipati Agung Surakarta”

Pagelaran Kethoprak “Sang Adhipati Agung Surakarta”

29 Februari 2020 | Pendhapa Balai Kota Surakarta

Sabtu, 29 Februari 2020 digelar sebuah pertunjukan kethoprak dengan lakon “Sang Adhipati Agung Surakarta” di Pendhapa Balai Kota Surakarta dalam rangka penutupan rangkaian acara Solo Great Sale dalam rangka memperingati hari jadi Kota Surakarta yang ke 275 tahun. Kethoprak tersebut dipentaskan oleh Sanggar Seni Kemasan Surakarta yang dibintangi oleh pemain kethoprak senior  yaitu Trisno “Pelok” Santoso, Eko Wahyu Prihantoro, Udin UPW, Purwanto “Meong”, Tarjo W Kusuma, dan masih banyak lainnya. Kethoprak tersebut juga dibintangi oleh pelawak Si Dul Pecas Ndahe dan Bambang Sugiarto yang juga menjadi sutradara pada pagelaran kethoprak tersebut.

            Lakon “Sang Adhipati Agung Surakarta” menceritakan kisah Raden Mas Said dalam melawan tentara Kompeni Belanda dan intrik yang terjadi di Kraton Kartasura. Kemudian terjadi perjanjian Giyanti yang memisahkan Mataram menjadi dua bagian dan dilanjutkan Perjanjian Salatiga.

            Pada adegan pertama diceritakan Raden Mas Said perang Melawan prajurit dari Kraton Kartasura yang dimenangkan oleh Raden Mas Said. Pada peperangan tersebut digambarkan dengan adanya empat penari yang membawa kain putih panjang yang dikibas-kibaskan dan Raden Mas Said menghadapi prajurit dari Kraton Kartosura, dilanjutkan adegan satu kelir dengan dua adegan yaitu menceritakan Raden Mas Said di Desa Nglaroh Mas Said mengatur strategi menghadapi Kraton Kartasura yang sudah diduduki oleh tentara Kompeni Belanda yang memfitnah kepada ayahhanda dan adegan dalam kraton Kartasura yang mana terdapat Raja Kraton Kartasura sedang berunding bersama Patih Danurejo dan pimpinan kompeni Belanda. Patih Danurejo dengan kelicikannya memfitnah Arya Mangkunegara agar diusir dari Kraton Kartasura karena tidak hadir pada saat dipanggil menghadap sang raja. Lalu Raden Mas Said mengucapkan sumpah yaitu akan menegakkan keadilan di tanah Jawa.

            Adegan selanjutnya yaitu Raden Mas Said membayangkan masa kecilnya yang sedang bermain bersama dua adiknya. Setelah itu datang dua orang yaitu Suradiwangsa dan Sutawijaya pada masa kecil lalu datang eyang putri dari Raden Mas Said dan setelah itu dilanjutkan dengan kembali lagi ke masa dewasa Raden Mas Said yang sedang berbincang dengan eyang putrinya terkait dengan keadaan yang telah terjadi di Kartasura dan fitnah yang yang datang kepada ayahnya. Eyang putri memberikan petuah-petuah keoada Raden Mas Said untuk selalu berada dalam jalan kebenaran dan tetap harus menegakkan keadilan.

            Adegan selanjutnya yaitu menggambarkan suasana desa di rumah Raden Mas Said. Ada yang menggambarkan tentang pasar, anak-anak yang sedang bermain. Setelah itu terlihat prajurit putra sedang berlatih oleh senjata dan prajurit putri yang sedang berlatih olah jemparing atau panah yang dilakukian bersama istri Raden Mas Said yang bernama Matah Ati. Lalu ada sesepuh desa kyai yang menggunakan baju serba putih sedang melihat suasana desa yang tentram tersebut. Selanjutnya Suradiwangsa dan Sutawijaya datang dan menemui sang kyai dengan tujuan untuk menceritakan keadaan kacau yang terjadi di Kraton Kartasura. Sang Kyai pun memberikan petuah-petuahnya kepadan Suradiwangsa dan Sutawijaya agar terus bersama menemani dan mendampingi perjuangan Raden Mas Said.

            Adegan selanjutnya yaitu di rumah Raden Mas Said yang sedang menggambarkan kemesraan Raden Mas Said dan Matah Ati sang istri itu digambarkan dengan tembang-tembang langgam jawa yang menceritakan kesetiaan hati. Setelah itu Raden Mas Said bercerita tentang kekacauan yang terjadi dan berpamitan kepoada sang istri untuk maju dalam peperangan dengan tujuan menegakkan keadilan di tanah Jawa. Sang istri juga mendukung apa yang akan dilakukan oleh Raden Mas Said, lalu Raden Mas Said meminta sang istri untuk tinggal di rumah dan menunggu pulangnya Raden Mas Said. Namun sang istri tidak mau hanya tinggal di rumah karena dia ingin menemani Raden Mas Said dalam keadaan apapun. Akhirnya Raden Mas Said dan sang istri bersama-sama berangkat untuk melawan ketidakadilan itu. Setelah itu Raden Mas Said ditemani oleh Suradiwangsa dan Sutawijaya mengumpulkan para pengikutnya di lapangan desa. Mas Said menceritakan keadaan dan rencana yang akan dilakukan, para pengikutnya pun setuju dengan rencana Raden Mas Said dan akan maju bersama dalam menyelesaikan perkara tersebut. Dengan demikian Raden Mas Said mengangkat Suradiwangsa menjadi patih dan mengankat Sutawijaya menjadi senopati/pemimpin perang. Dan untuk para pengikut Raden Mas Said yang ikut diperbolehkan untuk menggunakan sebutan Joyo yang letaknya di depan nama aslinya. Lalu prajurit itu dinami dengan sebuta Bregada Sekawandasa Joyo. Lalu sebelum berangkat Raden Mas Said dan para pengikutnya mengucapkan sumpah dengan sebutan “Tiji Tibeh” dengan kepanjangan mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh.

            Keadaan di Kraton Kartasura tambah kacau karena Pangeran Mangkubumi pergi keluar dari kraton. Melihat hal tersebut Danurejo dan pemimpin kompeni Belanda memrintahkan parav prajuritnya untuk mengejar dan mendapatkan kembali sang Pangeran Mangkubumi. Ditengah perjalannya untuk pergi jauh dari kraton, Pangeran Mangkubumi yang ditemani dengan Patih Wiradigda dan para pengikiutnya berhenti di daerah yang disebut Tlatah Sukawati yang berada di sebelah timur Surakarta. Disana Mangkubumi memerintahkan para pengikutnya untuk bersitirahat dan membangun tenda-tenda untuk beristirahat atau yang bisa disebut dengan pesanggrahan. Setelah itu adegan dagelan yang yang diperankan oleh Si Dul Pecas Ndahe dan sang sutradara.dalam dagelan tersebut sebagi penyambung cerita dari cerita sebelumnya menuju cerita selanjutnya. Selanjutnya Raden Mas Said di undang sang kyai dan diberi petunjuk untuk melakukan pertapaandi desa Ndruju. Pada saat Raden Mas Said ada beberapa pengikut Raden Mas Said ingin berhenti berjuang bersama karena dia menganggap tidak ada untungnya berjuang bersama Raden Mas Said. Terjadilah perselisihan anatara kelompok yang ingin berhenti dan kelompok yang ingin tetap bersama Raden Mas Said. Tidak lama setelah itu Patih Suradiwangsa dan Senopati Sutawijaya datang dang mengingatkan lagi sumpah “Tiji Tibeh”. Dalam keadaan yang dianggap aman ternyata para Kompeni Belanda mengetahui tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi dan terjadilah peperangan yang menewaskan patih Wiradagda karena terkena peluru salah satu prajurit Belanda.

            Adegan selanjutnya yaitu menceritakan pada Tahun 1755 Pakubuwana 3, perwakilan VOC, dan Mangkubumi melakukan perjanjian di Desa Giyanti yang isinya memecah Mataram menjadi 2 yaitu Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwana 2 dan Yogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi. Perjanjian itu disebut perjanjian Giyanti. Keadaan di desa sangat morat marit karena terkena dampak dari peperangan yang terjadi, banyak korban dan keluarga yang besedih ditinggal  mati keluarganya. Mas Said dan jajarannya membantu mengobati para korban. Lalu Raden Mas Said membuat rencana untuk menyerang Benteng  Vre de Burg Yogyakarta. Dan Raden Mas Berhasil menghancurkan benteng pertahanan tersebut.

            Adegan selanjutnya pada tanggal 17 Maret 1757. Terjadi perjanjian Salatiga yang dihadiri dan ditanda tangani Raden Mas Said, Hamengkubuwana 1, Pakubuwana 3, dan perwakilan VOC. Perjanjian tersebut berisi :

  1. Raden Mas Said mendapat separuh wilayah Surakarta dan Ngawen Yogyakarta menjadi penguasa Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegara I
  2. Raden Mas Said Tidak diperbolehkan duduk di dampar kencana
  3. Raden Mas Said Tidak boleh menempati bangsal witana
  4. Tidak boleh menggunakan alun-alun dan menanam pohon beringin kembar
  5. Tidak diperbolehkan memidana mati
  6. Harus menyerahkan 4000 karya

Setelah perjanjian itu Raden Mas Said diangkat menjadi raja dengan gelar Kanjeng Pangeran Adhipati Arya Mangkunegara.

      Kostum dan tata rias pada pagelaran kethoprak tersebut menggunakan kostum campuran antara gaya Surakarta dan Yogyakarta. Para tokoh laki-laki pada pagelaran tersebut menggunakan blangkon Jogja dan surjan. Untuk para prajurit menggunakan pakaian lurik ditambah dengan jarik. Pada pementasan ini didukung dengan iringan, lighting, dan clip on yang sangat baik. Walaupun masih ada kekuarangan sedikit yang terletak pada pengoprasian clip on pemain yang sering bocor. Diluar dari semua itu antusiasme masyarakat kota Surakarta sangan besar itu dibuktikan dengan masih penuhnya bangku penonton dari awal hingga akhir pertunjukan. Dan ini juga bisa menjadi salah satu inspirasi kami selaku UKM BKKT dalam melaksanakan pementasan yang lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *