You are currently viewing APREASIASI SENI – INTERNATIONAL MASK FESTIVAL 2023

APREASIASI SENI – INTERNATIONAL MASK FESTIVAL 2023

Pada Sabtu, 18 November 2023 Bidang Pelatihan, Pengembangan, dan Penelitian Ormawa Kesenian Tradisional BKKT UNS telah menyelenggarakan apresiasi seni yang ke lima, yaitu mengapresiasi sebuah panggung pertunjukkan dengan acara berjudul International Mask Festival atau yang bisa disebut IMF, yang diadakan di Rumah Kebudayaan Ndalem Djojokoesoeman secara luring oleh pengurus maupun anggota BKKT UNS berjudul International Mask Festival atau yang bisa disebut IMF merupakan panggung kreatif bagi seniman baik bidang tari muda, mereka tampil memukau penonton dengan keindahan karyanya yang ditampilkan di Rumah Kebudayaan Ndalem Djojokoesoeman, sekaligus menyajikan gagasan para seniman dalam sebuah sajian tarian di setiap sesi acara.

IMF Rutin diselenggarakan tiap tahun di Indonesia, untuk tahun ini diselenggarakan di 2 kota yaitu di Kutai Kartanegara dan di Surakarta. IMF diselenggarakan dengan tujuan sebagai sarana diplomasi budaya antar daerah dan Masyarakat, edukasi apresiasi topeng di Masyarakat, daya Tarik wisatawan domestic dan internasional. Di tahun ini IMF telah diselenggarakan yang ke-10 kalinya pada tanggal 17-18 November Rumah Kebudayaan Ndalem Djojokoesoeman, menghadirkan tema The Power Of Mask. Beragam pertunjukkan juga dari negara” luar seperti Republik Korea, Kamboja, Taiwan, Ecuador, serta dalam negeri seperti, Jakarta dan Pati

Sajian pertama dengan judul Nindak Jirumklan karya B. Kristiono Soewardjo berasal dari Jakarta. Karya tari berakar pada landasan kebudayaan dari Jakarta (Betawi). Tari ini memanfaatkan gerak-gerak Tari Topeng. Tari ini menggambarkan  asal usul umat manusia dengan banyak karakter seperti ada yang memilih kehidupan dengan ketenangan ada juga yang memilih dengan penuh tantangan. Sajian ini menampilkan sebuah tari yang sangat magis unik dengan berbagai Gerakan kontem dan sedikit ditambah dengan tarian khas Jakarta , dengan diiringi lagu modern campuran khas musik Jakarta. Di dalam karya ini terdapat 4 penari cowo yang menggunakan kostum berwarna warni dengan ditambah aksen ikat di kepala dan tak lupa menggunakan topeng yang setiap karakternya berbeda sesuai penggambaran tariannya. Iringan musiknya sangat indah dan energik, membuat sebuah karya tersebut sangat cocok untuk disatu padukan.

Penampil kedua yaitu Tari Topeng Mina Tani karya Rafi Rizqulla Arifirin dari Sanggar Pandu di Pati. Tari Topeng Mina Tani merupakan tari tradisional bergenre topeng yang menampilkan dinamisme masyarakat di Kabupaten Pati. Tari ini ditarikan oleh penari lelaki yang  menghiasi dirinya  dengan topeng Mina Tani yang terbuat dari bahan kuningan, serta jarik – kain berbentuk persegi panjang berdesain batik – yang serasi dengan ukiran pada topeng tersebut. Tari ini menggunakan tari jawa tradisi tari gagahan dan ada juga campuran alusan dengan musik gamelan alun indah dan juga energik

Draw a Rough Line dari BMC Dance Company, penampil keiga asal Republic Of Korea. Tari Draw a Rough Line ini dimaksudkan untuk mengungkapkan secara kasar kehidupan sehari-hari masyarakat modern yang sulit dengan garis-garis, dan untuk mengungkapkan keinginan manusia untuk mengejar kebebasan dengan gerak tubuh yang lembut untuk mewakili dualitas manusia. Karya dari BMC tersebut sangat unik dengan tarian yang sangat energik menggugah semangat membuat penonton terpukau karena tubuh nya yang gemulai dan Gerakan yang lumayan cepat tetapi bisa kompak satu padan sama ditambah dengan lighting yang sangat mendukung. Tarian yang ditarikan oleh 3 penari ini dengan kostum yang diawali dengan topeng jubah putih  lalu kostum kedua menggunakan kostum putih dan uniknya topengnya dilepas dan memperlihatkan wajah cantik dari penari penari. Tari yang dibawakan ada banyak sekali ragam Gerakan yang berasal dari negara tersebut. 

Penampil keempat yaitu Cham-Baing Tupi dari Lakhaon Khaol Youth of Cambodia asal Kamboja. Cham-Baing Tupi merupakan salah satu bagian cerita Ramayana yang menceritakan tentang nama kerbau jantan TuPi yang sangat sakti. Ia bertemu dengan Peli (Raja Monyet) dan sempat berkelahi lalu dibunuh karena TuPi angkuh dan angkuh serta bidadari roh mencabut tanduknya yang sakti. Karya dari Lakhaon Khaol Youth of Cambodia tersebut sangat unik keren dengan adanya jalan 

cerita menggunakan Bahasa dari negara Kamboja  menambahkan daya Tarik penonton ternyata seperti ini mendengarkan cerita yang menggunakan Bahasa Kamboja secara langsung. Tarian atau yang bisa disebut drama karena ada alur cerita ini yaitu ada 6 tokoh penari ini dengan kostum yang sangat unik mewah ada yang menggunakan seperti kera ada banteng dan juga ada seperti lelaki tetua atau biksu. Gerakan tarian yang dibawakan pun khas dari negara tersebut.

Penampil kelima Goddess Mask Parade  dari Chinese Youth Goodwill Association asal Taiwan. Tari Goddess Mask Parade  yang bisa diartikan Parade Topeng Dewi yang diceritakan Berasal dari mitologi Daois setempat, dewi bertopeng ini menunjukkan keterlibatan penuh kegembiraan perempuan untuk merayakan peran perempuan dalam membantu komunitas memberkati dunia sipil dengan musik festival oriental sebagai latar belakang panen. Yang disitu dicantumkan Koreografer: Ibu Lai Hsiao Ting dari Kelompok Tari Wu Fang 

Hua. Karya Chinese Youth Goodwill Associa tersebut dari Taiwan  sangat unik keren dengan tarian yang sangat cantik nan energik dapat memanjakan mata penonton . Tarian ini ditarikan oleh banyak penari gadis yang berparas sangat cantik cantik yang menggunakan kostum yang sangat menarik baju dress yang sangat indah ditambah dengan banyaknya properti yang digunakan seperti topeng,payung,kipas,dan juga kain membuat penampilan semakin menarik. Tari ini jg menggunakan gerak tari khas dari Taiwan yang gemulai mirip seperti tarian china dan musiknya pun jg sm khas dari negara tersebut.

Penampil keenam yaitu “ENTRE MONTANAS- A Tale of the Andean Mountains dari Edgar Freire asal Ecuator “ENTRE MONTAÑAS atau bisa diartikan  Kisah Pegunungan Andes-“. Tarian ini merupakan karya puisi tentang para petani di Ekuador dan komunitas tradisionalnya yang berjalan melewati pegunungan Andes dan sampai di Indonesia. Karya ini merupakan hasil kolaborasi dengan seniman. Karya ini memiliki keunikan dengan adanya jalan cerita dari awal hingga akhir yang diceritakan dengan puisi dan lagu dari negara itu menambahkan daya Tarik penonton. Tarian atau yang bisa disebut drama karena ada alur cerita ini yaitu ada 2 penari dan 1 orang yang membawakan puisi dan juga lagu yang dapat memadukan tari tersebut. Tari  ini  kostum yang sangat khas dan uniknya penari memberi jagung seolah-olah sehabis panen kepada penonton. Pada karya ini juga  memberikan  bendera Ecuator dan negara Indonesia berdampingan Bertani Bersama Bahagia dan melakukan tarian panen raya bersama. Gerakan tarian yang dibawakan pun khas dari negara tersebut dan juga negara Indonesia jadi karya ini merupakan karya campuran antara Indonesia dengan Ecuator..