PEKSIMIDA JAWA TENGAH 2026 TANGKAI TARI GARAPAN

Pada tanggal 4 Juli 2026 telah dilaksanakan kegiatan Apresiasi Seni dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) di Teater Besar Gendhon Humardhani ISI Surakarta. PEKSIMIDA merupakan ajang kompetisi seni mahasiswa yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan bakat dan kreativitas di berbagai cabang kesenian atau yang dikenal sebagai tangkai lomba. Pada kesempatan ini, Bidang 1 melakukan apresiasi terhadap tangkai lomba Tari Garapan.

Peserta PEKSIMIDA berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Provinsi Jawa Tengah. Dalam kegiatan apresiasi ini, Bidang 1 mengamati penampilan peserta dengan nomor undi 21–24, yaitu delegasi dari Universitas Tidar, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Kristen Satya Wacana.

Penyaji nomor undi 21 berasal dari Universitas Tidar dengan karya tari berjudul “SUMARAH”. Dalam bahasa Jawa, sumarah berarti pasrah atau berserah diri. Karya ini terinspirasi dari tokoh pewayangan Arimbi yang mengalami pergolakan batin akibat dua sisi kepribadian yang saling berebut untuk berkuasa. Melalui karya ini, koreografer menghadirkan refleksi mengenai perjuangan batin seseorang hingga akhirnya mencapai titik kepasrahan. Suasana tari dibangun melalui alunan musik yang sendu serta gerak yang penuh penghayatan, menggambarkan kesedihan, keprihatinan, dan konflik batin yang dialami tokoh.

Penyaji nomor undi 22 merupakan delegasi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan karya tari berjudul “TINALI”. Karya ini lahir dari perenungan terhadap seutas tali tambang yang dimaknai sebagai metafora kehidupan. Tali tidak hanya dipandang sebagai benda, tetapi juga sebagai simbol yang menghubungkan manusia dengan sesamanya, dengan alam, serta dengan kehidupan. Setiap simpul melambangkan persoalan hidup, sementara lilitan tali merepresentasikan dinamika perjalanan manusia. Melalui gerak yang dinamis, saling menarik, mengikat, dan melepaskan, para penari menghadirkan harmoni yang mencerminkan keberanian, pengorbanan, kelembutan, serta kuatnya ikatan kemanusiaan. Karya ini mengajak penonton merefleksikan bahwa sesuatu yang tampak sederhana dapat memiliki makna yang begitu besar dalam kehidupan.

Penyaji nomor undi 23 berasal dari Universitas Sebelas Maret dengan karya tari berjudul “Pustaka Jiwa”. Karya ini mengangkat isu menurunnya minat baca di kalangan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi. Berangkat dari pemikiran tokoh-tokoh bangsa seperti R.A. Kartini, Tan Malaka, dan Mohammad Hatta mengenai pentingnya membaca, karya ini mengingatkan kembali bahwa buku merupakan sumber ilmu pengetahuan sekaligus fondasi dalam membangun peradaban. Melalui penyajian tari, koreografer mengajak penonton untuk kembali menyadari pentingnya budaya literasi sebagai bekal menghadapi masa depan.

Penyaji nomor undi 24 sekaligus penampil terakhir dalam rangkaian PEKSIMIDA berasal dari Universitas Kristen Satya Wacana dengan karya tari berjudul “AKAR SEMU”. Karya ini terinspirasi dari filosofi pohon bambu yang membutuhkan waktu lama untuk memperkuat akar sebelum tumbuh tinggi dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan. Filosofi tersebut dikontraskan dengan fenomena generasi muda masa kini yang cenderung mengejar pengakuan dan eksistensi secara instan melalui media sosial, meskipun fondasi mental dan jati dirinya belum terbentuk dengan kuat. Melalui penggunaan properti bambu dan ring light sebagai simbol validasi semu, karya ini menggambarkan kegelisahan, kesepian, serta rapuhnya mentalitas di balik citra yang tampak sempurna. Secara keseluruhan, karya ini menjadi refleksi bagi generasi muda untuk memilih antara membangun fondasi diri yang kokoh atau terus terjebak dalam ilusi pencarian perhatian.